Banyak yang beranggapan bahwa kanker perut disebabkan oleh zat-zat bersifat karsinogen yang dihasiikan oleh bakteri dalam usus besar.

Di Kerajaan Inggris dan Amerika Serikat, ia hanya dikaiahkan oleh kanker paru-paru sebagai sumber kematian yang disebabkan oleh kanker. Perbedaan-perbedaan internasional yang mengejutkan dalam jumlah penderitaan pastilah berasal dari faktor-faktor lingkungan dan bukan faktor-faktor keturunan: misalnya, orang-orang Jepang yang bermigrasi ke Amerika Serikat menyerah pada kanker perut mengikuti tingkat-tingkat yang tinggi di A.S dan bukan tingkat-tingkat yang rendah seperti di Jepang. Dua teori mengenai sebab-sebab kanker perut, yang satu menunjuk pada serat kasar diet dan yang lain pada lemak menu, telah banyak dianut dewasa ini. Salah satu atau dua-duanya sampai tingkat tertentu mungkin saja benar, tapi kedua-duanya belum lagi diterima secara mantap.

idihhhhWalaupun belum lagi dirumuskan secara persis, serat kasar (roughage) biasanya dipandang sebagai bagian dinding sel tanaman yang tak bisa dicerna. Serat kasar terutama terdapat pada lapisan luar dari biji-bijian serta dalam buah-buahan dan sayuran yang mentah atau hanya direbus sebentar. Ia menambahkan jumlah makanan, menyerap air, dan membesar dalam perut serta usus. Kotoran dari mereka yang menunya kaya-serat adalah lebih lunak dan lebih banyak daripada kotoran yang sering dikaitkan dengan menu kurang serat, dan ia cenderung lewat lebih cepat dalam tubuh. Proses konsumsi-ke-pembuangan acia kalanya berlangsung tiga hari atau lebih pada orang-orang Barat, yang menunya berisi lebih sedikit serat daripada sebelumnya, sementara pada orang desa di Afrika, yang menunya kaya-serat dan jarang menderita kanker perut, rata-rata hanya sehari atau dua hari.

Menu yang sangat terolah (hiehly refined dief) bisa mengubah komposisi bakteri usus besar, dan rrrerangsang jenis yang sangat cenderung untuk merusak zat-zat pencernaan menjadi bersifat karsinogen. OIeh karena kotoran besar yang seratnya sedikit tinggal lebih lama dalam perut, bakteri dalam usus punya lebih banyak waktu buat menciptakan sifat karsinogen. Akhirnya, kotoran besar kurang-serat yang relatif keras bisa memenuhi dinding usus besar dengan zat karsinogen. Para kritikus telah menunjukkan beberapa kelemahan dalam teori serat. Bahwa konsentrasi zat bersifat karsinogen yang sesungguhnya dalam kotoran besar lebih tinggi pada menu terolah belum lagi dibuktikan secara memuaskan. Dan tingkat lalu-lintas kotoran besar melalui usus tidaklah harus berarti bahwa bagian dinding usus besar tak begitu terganggu dengan zat bersifat karsinogen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *