Cara Mengelola Mesin Penetas Telur Agar Awet

mesin penetas telur sederhana

Mesin penetas telur sederhana yang baru dibeli atau dibuat sendiri belum tentu dapat bekerja secara sempurna. Banyak komponen elektronik dan suku cadang yang belum dapat berjalan secara sempurna. Tidak bekerjanya satu komponen dapat mempengaruhi kinerja komponen lainnya.

Adalah penting bagi kita untuk melakukan uji coba terhadap mesin penetas telur baru baik mesin penetas telur otomatis maupun mesin tetas manual, hal ini dilakukan untuk memastikan kelancaran operasional kerjanya.

Di samping itu, pengguna juga belum tentu paham sepenuhnya dengan cara kerja serta kemampuan kerja dari setiap mesin tetas telur yang dimilikinya. Untuk memahami cara kerja suatu mesin tetas sederhana dengan baik diperlukan pengalaman kerja yang cukup panjang.

Kesalahan yang terjadi di tengah-tengah proses penetasan yang sedang berlangsung (selama 21 hari) dapat mengakibatkan kegagalan penetasan.

Ada baiknya jika pengguna mencoba mesin tetas yang baru dengan memakai telur yang murah. Maksudnya untuk mencegah kerugian yang terlalu besar jika dibandingkan dengan menggunakan telur yang harganya mahal atau malah merupakan telur dari jenis ayam yang sudah langka.

Hal yang sama juga perlu dilakukan bila pengguna adalah orang yang belum berpengalaman dalam mengelola mesin tetas. Bagaimanapun pengalaman pengelolaan merupakan salah satu unsur yang sangat menunjang keberhasilan penetasan.

Penentuan Lokasi

Ruang yang sejuk, sirkulasi udara yang baik, dan ruang yang tidak pengap adalah kondisi paling ideal untuk menempatkan suatu mesin tetas. Udara yang sejuk dengan temperatur ruang yang bervariasi antara 20-30°C, tingkat kelembapan tidak lebih tinggi dari 60%, dan udara yang mengalir lancar dari jendela ruang akan meningkatkan prosentase keberhasilan penetasan. Temperatur udara ruang yang berubah-ubah sangat drastis akan mempengaruhi temperatur di dalam mesin tetas sederhana (selanjutnya disebut temperatur inkubator).

Temperatur ruang yang dingin akan membuat temperatur inkubator cepat menjadi dingin. Demikian juga sebaliknya. Temperatur ruang yang terlalu panas akan membuat temperatur inkubator juga akan lebih cepat lagi panasnya.

Keduanya (temperatur ruang dan temperatur inkubator) sangat berkaitan. Tingkat kelembapan yang normal dan aliran udara yang bagus akan menstabilkan temperatur inkubator secara lebih lama lagi.

Peletakan mesin tetas dalam suatu ruang juga perlu mendapat perhatian. Jangan sampai mesin tetas terkena cahaya matahari secara langsung. Cahaya matahari yang langsung mengenai mesin tetas akan menaikkan temperatur inkubator dengan cepat.

Apabila temperatur inkubator naik terlalu tinggi dalam tempo yang lama, telur akan gagal menetas. Mesin tetas yang peletakannya baik akan membantu pengguna dalam mengontrol temperatur inkubator dengan lebih mudah.

Persiapan Pendahuluan
Setelah menemukan lokasi penempatan yang paling ideal, langkah persiapan selanjutnya adalah mempersiapkan dan mengecek berfungsinya jendela pengontrol, alat pemanas, termostat, dan termometer. Dari tiga model mesin tetas sederhana yang telah dijelaskan pada bab terdahulu, pengoperasian nya sudah memakai micro-switch yang sudah memiliki termostat (dalam bentuk ether wafer) untuk mengontrol temperatur di dalam ruang inkubator.

Bila ether wafer mengembang karena panas, salah satu kepingnya akan menyentuh micro-switch. Sentuhan ini akan mengakibatkan arus listrik terputus, dan alat pemanas (kawat pengantar panas atau lampu pijar) tidak bekerja lagi.

Karena alat pemanas tidak bekerja, lama kelamaan temperatur dalam ruang inkubator akan turun. Turunnya temperatur akan menyusutkan cairan ether dan membuat kepingnya tidak lagi bersentuhan dengan micro-switch. Tidak adanya persentuhan membuat arus listrik mengalir kembali dan alat pemanas kembali bekerja. Begitu seterusnya.

Alat ini perlu dicek dahulu ketepatan bekerjanya. Jika memang sudah dapat bekerja pada temperatur yang diinginkan, pekerjaan dapat dilangsungkan. Bila tidak bekerja pada temperatur yang diinginkan, perlu dilakukan penyesuaian atau perbaikan.

Selain membuat micro-switch, dengan prinsip yang sama juga dapat dibuat sendiri suatu perangkat pengatur temperatur yang biasa disebut dengan termoregulator. Rangkaian alat ini terdiri dari keping pengonttol (berfungsi seperti ether wafer pada micro-switch), rangka tempat berdirinya keping pengonttol, termostat, sekrup penyesuai, serta pipa dan piston.

Pola kerja termoregulator ini sebagai berikut
Keping pengontrol dipasang secara benar pada rangka mesin penetas telur. Keping pengontrol adalah dua keping pelat kuningan (atas dan bawah atau depan dan belakang) yang di dalamnya berisi larutan ether. Ether ini akan mengembang atau menyusut sempurna pada perbedaan temperatur yang sangat sedikit. Pengembangan dan penyusutan keping ini akan diikuti dengan gerakan piston ke atas dan ke bawah karena keduanya memang bersinggungan secara langsung.

Switch/Saidar
Ini merupakan suatu terminal. Salah satu sekrupnya berhubungan dengan pemutus arus listrik, dan sekrup lainnya berhubungan dengan piston. Pada saat piston menyentuhnya, aliran listrik akan putus. Pada saat tidak menyentuh, aliran listrik akan berjalan kembali.

Sekrup Penyesuai
Sekrup penyesuai yang terdapat pada mesin penetas telur berfungsi sebagai penyangga keping pengontrol bagian bawah yang mengatur tinggi rendahnya posisi keping pengontrol. Bila diputar ke dalam, keping pengontrol akan semakin tinggi posisinya sehingga lebih tinggi lagi gerakan pistonnya. Ini berarti lebih cepat lagi arus listrik akan terputus. Bila diputar, reaksi yang sebaliknya akan terjadi. Sekrup penyesuai dipakai untuk menentukan persentuhan piston dengan termostat pada temperatur yang diinginkan.

Jadi, diatas merupakan artikel tentang cara mengelola mesin penetas telur agar awet dan bisa tahan lama sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya dalam merawatnya.

Artikel kami selanjutnya :
– Cara Yang Benar Dalam Merancang Mesin Pentas Telur Sederhana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *